Pages

Jumat, 30 November 2012

Prinsip Pengembangan Kurikulum


BAB I
PENDAHULUAN
               A.    Latar Belakang
Pengembangan kurikulum adalah istilah yang komprehensif, didalamnya mencakup: perencanaan, penerapan dan evaluasi. Perencanaan kurikulum adalah langkah awal membangun kurikulum ketika pekerja kurikulum membuat keputusan dan mengambil tindakan untuk menghasilkan perencanaan yang akan digunakan oleh guru dan peserta didik. Penerapan Kurikulum atau biasa disebut juga implementasi kurikulum berusaha mentransfer perencanaan kurikulum ke dalam tindakan operasional. Evaluasi kurikulum merupakan tahap akhir dari pengembangan kurikulum untuk menentukan seberapa besar hasil-hasil pembelajaran, tingkat ketercapaian program-program yang telah direncanakan, dan hasil-hasil kurikulum itu sendiri. Dalam pengembangan kurikulum, tidak hanya melibatkan orang yang terkait langsung dengan dunia pendidikan saja, namun di dalamnya melibatkan banyak orang, seperti : politikus, pengusaha, orang tua peserta didik, serta unsur – unsur masyarakat lainnya yang merasa berkepentingan dengan pendidikan.

   Prinsip-prinsip yang akan digunakan dalam kegiatan pengembangan kurikulum pada dasarnya merupakan kaidah-kaidah atau hukum yang akan menjiwai suatu kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum, dapat menggunakan prinsip-prinsip yang telah berkembang dalam kehidupan sehari-hari atau justru menciptakan sendiri prinsip-prinsip baru. Oleh karena itu, dalam implementasi kurikulum di suatu lembaga pendidikan sangat mungkin terjadi penggunaan prinsip-prinsip yang berbeda dengan kurikulum yang digunakan di lembaga pendidikan lainnya, sehingga akan ditemukan banyak sekali prinsip-prinsip yang digunakan dalam suatu pengembangan kurikulum.
B.            Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah dalam makalah  ini  yaitu :
                                 1.         Apa pengertian dari prinsip pengembangan kurikulum?
                                 2.         Apa saja macam-macam sumber prinsip pengembangan kurikulum ?
                                 3.         Apa saja tipe-tipe dari prinsip pengembangan kurikulum?
                                 4.         Apa saja macam-macam prinsip pengembangan kurikulum?
                                 5.         Bagaimana kerangka dasar pengembangan kurikulum?
C.      Tujuan
Makalah ini kami susun dengan tujuan untuk mengetahui :
                                 1.         Pengertian Prinsip Pengembangan Kurikulum.
                                 2.         Sumber-sumber Prinsip Pengembangan Kurikulum.
                                 3.         Tipe-tipe Prinsip Pengembangan Kurikulum.
                                 4.         Macam-macam Prinsip Pengembangan Kurikulum.
                                 5.         Kerangka dasar pengembangan kurikulum.















BAB II
PEMBAHASAN
A.      Prinsip Pengembangan Kurikulum
Pengembangan kurikulum adalah istilah yang komprehensif, didalamnya mencakup: perencanaan, penerapan dan evaluasi. Perencanaan kurikulum adalah langkah awal membangun kurikulum ketika pekerja kurikulum membuat keputusan dan mengambil tindakan untuk menghasilkan perencanaan yang akan digunakan oleh guru dan peserta didik. Penerapan Kurikulum atau biasa disebut juga implementasi kurikulum berusaha mentransfer perencanaan kurikulum ke dalam tindakan operasional. Evaluasi kurikulum merupakan tahap akhir dari pengembangan kurikulum untuk menentukan seberapa besar hasil-hasil pembelajaran, tingkat ketercapaian program-program yang telah direncanakan, dan hasil-hasil kurikulum itu sendiri. Dalam pengembangan kurikulum, tidak hanya melibatkan orang yang terkait langsung dengan dunia pendidikan saja, namun di dalamnya melibatkan banyak orang, seperti : politikus, pengusaha, orang tua peserta didik, serta unsur – unsur masyarakat lainnya yang merasa berkepentingan dengan pendidikan.
Prinsip-prinsip yang akan digunakan dalam kegiatan pengembangan kurikulum pada dasarnya merupakan kaidah-kaidah atau hukum yang akan menjiwai suatu kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum, dapat menggunakan prinsip-prinsip yang telah berkembang dalam kehidupan sehari-hari atau justru menciptakan sendiri prinsip-prinsip baru. Oleh karena itu, dalam implementasi kurikulum di suatu lembaga pendidikan sangat mungkin terjadi penggunaan prinsip-prinsip yang berbeda dengan kurikulum yang digunakan di lembaga pendidikan lainnya, sehingga akan ditemukan banyak sekali prinsip-prinsip yang digunakan dalam suatu pengembangan kurikulum. Dalam hal ini, Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengetengahkan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yang dibagi ke dalam dua kelompok : (1) prinsip – prinsip umum : relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, praktis, dan efektivitas; (2) prinsip-prinsip khusus : prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar, prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pelajaran, dan prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian. (http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/31/prinsip-pengembangan-kurikulum/)
B.       Pronsip-prinsip Pengembangan Kurikulum
Agar kurikulum dapat berfungsi sebagai pedoman, maka perlu adanya prinsip-prinsip dalam proses pengembangannya. Menurut Nana Syaodih Sukmadinata (1997), ada dua prinsip yaitu prinsip umum dan prinsip khusus. Prinsip umum meliputi prinsip relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, praktis, dan efektivitas. Sedangkan prinsip khusus meliputi prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar, prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pelajaran, dan prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian. Prinsip-prinsip tersebut akan dijelaskan sebagai berikut :
1.    Prinsip-prinsip Umum
a.       Prinsip Relevansi
Pengalaman-pengalaman belajar yang disusun dalam kurikulum harus relevan dengan kebutuhan masyarakat. Inilah yang disebut dengan prinsip relevansi.
Ada dua macam relevansi, yaitu relevansi internal dan relevansi eksternal. Relevansi internal adalah bahwa setiap kurikulum harus memiliki keserasian antara komponen-komponennya, yaitu keserasian antara tujuan yang harus dicapai, isi, materi atau pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa, strategi atau metode yang digunakan serta alat penilaian untuk melihat ketercapaian tujuan. Relevansi internal ini menunjukkan keutuhan suatu kurikulum.
Relevansi eksternal berkaitan dengan keserasian antara tujuan, isi, dan proses belajar siswa yang tercakup dalam kurikulum dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Ada tiga macam relevansi eksternal dalam pengembangan kurikulum. Pertama, relevan dengan lingkungan hidup peserta didik. Artinya, bahwa proses pengembangan dan penetapan isi kurikulum hendaklah disesuaikan dengan lingkungan sekitar siswa. Kedua, relevan dengan perkembangan zaman baik sekarang maupun dengan yang akan datang. Artinya, isi kurikulum harus sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang berkembang. Selain itu juga apa yang diajarkan kepada siswa harus bermanfaat untuk kehidupan siswa pada waktu yang akan datang. Ketiga, relevan dengan tuntuttan dunia pekerjaan. Artinya, bahwa apa yang diajarkan di sekolah harus mampu memenuhi dunia kerja. Isi kurikulum harus menyesuaikan dengan tuntuttan pekerjaan di setiap bidang.
Untuk memenuhi prinsip relevansi ini, maka dalam proses pengembangannya sebelum ditentukan apa yang menjadi isi dan model kurikulum yang bagaimana yang akan digunakan, perlu dilakukan studi pendahuluan dengan menggunakan berbagai metode dan pendekatan seperti melakukan suervei kebutuhan dan tuntutan masyarakat atau melakukan studi tentang jenis-jenis pekerjaan yang dibutuhkan oleh setiap lembaga atau instansi.
b.      Prinsip Fleksibilitas
Kurikulum harus bersifat lentur atau fleksibel. Artinya, kurikulum itu harus bisa dilaksanakan sesuai kondisi yang ada. Kurikulum yang kaku atau tidak fleksibel akan sulit diterapkan.
Prinsip fleksibilitas memiliki dua sisi: pertama, fleksibel bagi guru, yang artinya kurikulum harus memberikan ruang gerak bagi guru untuk mengembangkan program pengajarannya sesuai dengan kondisi yang ada. Kedua, fleksibel bagi siswa, artinya kurikulum harus menyediakan berbagai kemungkinan program pilihan sesuai dengan bakat dan minat siswa.
c.       Prinsip Kontinuitas
Perlu dijaga saling keterkaitan dan kesinambungan antara materi pelajaran pada berbagai jenjang dan jenis program pendidikan. Dalam penyusunan materi pelajaran perlu dijaga agar apa yang diperlukan untuk mempelajari suatu materi pelajaran pada jenjang yang lebih tinggi telah diberikan dan dikuasai oleh siswa pada waktu mereka berada pada jenjang sebelumnya. Prinsip ini sangat penting bukan hanya untuk menjaga agar tidak terjadi pengulangan-pengulangan materi pelajaran yang memungkinkan program pengajaran tidak efektif dan efisien, akan tetapi juga untuk keberhasilan siswa dalam menguasai pelajaran pada jenjang pendidikan tertentu.
Untuk menjaga agar prinsip kontinuitas itu berjalan, maka perlu ada kerjasama antara pengembang kurikulum pada setiap jenjang pendidikan.
d.      Efektivitas
Prinsip efektivitas berkenaan dengan rencana dalam suatu kurikulum dapat dilaksanakan dan dapat dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Terdapat dua sisi efektivitas dalam suatu pengembangan kurikulum. Pertama, efektivitas berhubungan dengan kegiatan guru dalam melaksanakan tugas mengimplementasikan kurikulum di dalam kelas. Kedua, efektivitas kegiatan siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar. Efektivitas kegiatan guru berhubungan dengan keberhasilan mengimplementasikan program sesuai dengan perencanaan yang telah disusun. Efektivitas kegiatan siswa berhubungan dengan sejauh mana siswa dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan sesuai dengan jangka waktu tertentu.
e.       Efisiensi
Prinsip efisiensi berhubungan dengan perbandingan antara tenaga, waktu, suara, dan biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang diperoleh. Kurikulum dapat dikatakan memiliki tingkat efisiensi yang tinggi apabila dengan sarana, biaya, yan minimal dan waktu yang terbatas dapat memperoleh hasil yang maksimal. Betapa pun bagus dan idealnya suatu kurikulum, manakala menuntut peralatan, sarana, dan prasarana yang sangat khusus serta mahal harganya, maka kurikulum itu tidak praktis dan sukar untuk dilaksanakan. Kurikulum harus dirancang untuk dapat digunakan dalam segala keterbatasan.
2.    Prinsip-prinsip Khusus
Merucut pada prinsip prinsip yang digunakan dalam pengembangan komponen-komponen kurikulum secara khusus (tujuan, isi, metode dan evaluasi). Satu wi;layah dengan wilayah lainnya satu jenis dan jenjang pendidikan dengan jenis dan jenjang pendidikan lainnya memiliki karakteristik yang berbeda dalam beberapa aspek. Perbedaan tersebut dapat mengakibatkan epnggunaan prinsip-prinsip yang khas sesuai denagn situasi dan kondisi sert merta dan karakteristik jenis dan jenjang pendidikan tersebut. Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum khusus lainnya yaitu, merujuk pada prinsip-prinsip pengembangan komponen-komponen kurikulum, yang mana antara satu komponen sengan komponen lainnya memiliki prinsip yang tidak sama. Dibawah ini akan diuraikan beberapa prinsip pengembangan kurikulum khusus yang berkaitan dengan pengembangan komponen-komponen kurikulum :
a.         Prinsip yang berkenaan dengan tujuan pendidikan
Tujuan pendidikan mencakup, tujuan yang bersifat umum atau jangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek (khusus). Perumusan tujuan pendidikan bersumber pada :
1)        Ketentuan dan kebijakan pemerintah, yang dapat ditemukan dalam dokumen-dokumen lembaga negara mengenai tujuan , dan strategi pembangunan termasuk didalamnya pendidikan.
2)        Survey mengenai persepsi orang tua atau masyarakat tentang kebutuhan mereka yang dikirmkan melalui angket atau wawancara dengan mereka.
3)        Survei tentang pandangan para ahli dalam bidang-bidang tertentu, dihimpun melalui angket, wawancara, observasi, dan dari berbagai media massa.
4)        Survei tentang man power (sumber daya manusia) atau tenaga kerja
5)        Pengalaman negara-negara lain dalam maslah yang sama.
6)        Penelitian.
b.         Prinsip yang berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan
Beberapa pertimbangan yang perlu dilakukan untuk menentukan isi pendidikan atau kurikulum yaitu :
1)        Perlu penjabaran tujuan pendidikan atau pengajaran kedalam perbuatan hasil belajar yang khusus dan sederhana. Makin umum suatu perbuatan hasil belajar dirumuskan semakin sulit menciptakan pengalaman belajar.
2)        Isi bahan pelajaran harus meliputi segi pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
3)        Unit-unit kurikulum harus disusun dalam urutan yang logis dan sistematis.
c.         Prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar
Untuk menentukan kegiatan proses belajar mengajar apa yang akan digunakan hendaknya memperhatikan hal hal berikut :
1)        Apakah metode atau tehnik belajar mengajar yang digunakan cocok untuk mengajarkan bahan pelajaran?
2)        Apakah metode atau tehnik tersebut memberikan kegiatan yang bervariasi sehingga dapat melayani perbedaan individual siswa?
3)        Apakah metode atau tehnik tersebut dapat memberikan keurutan kegiatan yang bertingkat-tingkat?
4)        Apakah metode atau tehnik tersebut dapat menciptakan kegiatan untuk mencapai tujuan kognitif, afektif, dan psikomotor?
5)        Apakah metode atau tehnik tersebut lebih mengaktifkan siswa atau mengaktifkan guru atau kedua-duanya?
6)        Apakan metode atau tehnik tesebut mendorong berkembangnya kemampuan baru?
7)        Apakh metode atau tehnik tersebut menimbulkan jalinan kegiatan belajar disekolah dan dirumah, juga mendorong penggunaan sumbar balajar yang ada dirumah dan dimasyarakat/
8)        Untuk belajar keterampilan sangat dibutuhkan kegiatan belajar yang menekankan learning by doing disamping learning by seeingand knowing.
d.      Prinsip yang berkenaan dengan pemilihan media dan alat pengajaran
Untuk mewujudkan proses belajar mengajar yang baik perlu didukung oleh media dan alat bantu pembelajaran yang tepat beberapa prinsip yang bisa dijadikan pegangan untuk memilih dan menggunakan media dan alat bantu pembelajaran :
1)        Alat atau media apa yang diperlukan? Apakah semua sudah tersedia? Bila alat tersebut tidak ada apakah ada penggantinya?
2)        Kalau ada yang harus dibuat, hendaknya memperhatikan bagaimana membuatnya, siapa yang membuat, pembiayaan, serta waktu pembuatannya?
3)        Bagaimana pengoorganisasian alat dalam bahan pelajaran, apakah dalam bentuk modul, paket belajar, dll?
4)        Bagaimana mengintegrasikan dalam keseluruhan kegiatan belajar ?
5)        Hasil yang terbaik akan diperoleh dengan menggunakan multimedia.
e.         Prinsip yang berkenaan dengan penilaian
Penilaian merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pembelajaran setideknya ada tiga fase yang harus diperhatikan ketika merencanakan alat penilaian, menyusun alat penilaian, dan pengelolaan hasil penilaian. Fase perencanaan alat penilaian :
1)        Bagaimana karakteristik kelas, usia, tingkat kemampuan kelompok ang akan dites?
2)        Berapa lama waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan tes?
3)        Apakah tes tersebut berbentuk uraian atau pilihan?
4)        Berpa banyak butir tes yang perlu disusun?
5)        Apakah tes tersebutdiadministrasikan oleh guru atau murid?
Fase penyusunan alat penilaian:
1)        Merumuskan tujuan-tujuan pendidikan yang umum, dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotor.
2)        Uraikan kedalam bentuk, tingkah laku murid yang dapat di amati.
3)        Hubungkan dengan bahan pelajaran
4)        Tuliskan butir-butir tes
Pengelolaan hasil penilaian.
1)        Norma penilaian apa yang akan digunakan dalam pengelolaan hasil tes?
2)        Apakah digunakan formula guessing/
3)        Bagaimana perubahan score kedalam score masak
4)        Skor standar apa yang digunakan?
5)        Untuk apakah hasil tes digunakan?
Prinsip-prinsip tersebut sifatnya tidak kaku, masih mungkin untuk dimodifikasi, ditambah atau dikurangi, sesuai dengan kebiutuhan yang ada.
C.       Macam-macam Sumber Prinsip Pengembangan Kurikulum
Sumber prinsip yaitu dari mana asal muasal terlahirnya suatu prinsip. Setidaknya ada empat sumber prinsip pengembangan kurikulum, yaitu : data empiris (empiricial data), data eksperimen (experiment data), cerita/legenda yang hidup di masyarakat (folklore of curricuculum), dan akal sehat (common sense) (Oliva, 1992:28). Data empiris merujuk pada pengalaman yang terdokumentasi dan terbukti efektif, data eksperimen menunjuk pada temuan-temuan hasil penelitian. Data hasil temuan penelitian merupakan data yang dipandang valid dan reliable, sehingga tingkat kebenaran lebih meyakinkan untuk dijadikan prinsip dalam pengembangan kurikulum.
                        Namun demikian dalam fakta kehidupan, data hasil penelitian (hard data) itu sifatnya sangat terbatas. Disamping itu, banyak data-data lainnya yang diperoleh bukan dari hasil penelitian yang digunakan juga terbukti efektif untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan yang kompleks diantaranya yaitu adat kebiasaan yang hidup di masyarakat (folklore of curricuculum) dan hasil pertimbangan dan penilaian akal pikiran (common sense). Bahkan data yang diperoleh dari penelitian sendiri digunakan setelah melalui proses pertimbangan dan penilaian akal sehat terlebih ahulu.
Dengan demikian jelas, bahwa kesemua jenis data di atas semuanya berguna dan bermanfaat bagi kegiatan pengembangan kurikulum, sebagai sumber prinsip yang akan dijadikan pegangan.

D.      Tipe-tipe Prinsip Pengembangan Kurikulum
Tipe-tipe prinsip pengembangan kurikulum yaitu tingkat validitas dan reliabilitas prinsip yang digunakan. Hal ini ada kaitannya dengan sumber-sumber dari prinsip pengembangan kurikulum itu sendiri. Ada data, fakta, konsep, dan prinsip yang tingkat keterpercayaannya tidak diragukan lagi karena sudah terbukti melalui uji riset yang berulang-ulang, ada juga data yang sudah terbukti tapi masih terbatas dalam kasus-kasus tertentu belum bisa digeneralisasikan, dan terdapat pula data yang belum dibuktikan oleh riset tapi sudah terbukti dalam kehidupan dan menurut pertimbangan akal sehat dipandang logis, baik, dan berguna.
                        Merujuk pada hal di atas, maka prinsip-prinsip pengembangan  kurikulum itu bisa diklasifikasikan menjadi tiga tipe prinsip yaitu anggapan kebenaran  utuh atau menyeluruh (Whole Truth), anggapan kebenaran parsial (Partial Truth), dan anggapan kebenaran yang masih memerlukan pembuktian (Hypothesis). Anggapan kebenaran utuh (Whole Truth) adalah fakta, konsep, dan prinsip yang diperoleh dan telah diuji dalam penelitian yang ketat dan berulang sehingga bisa dibuat generalisasi dan bisa berlakukan ditempat yang berbeda. Tipe prinsip kategori ini tidak akan mendapat tantangan atau kritik karena sudah diyakini oleh orang-orang yang terlibat dalam pengembangan kurikulum.
                        Anggapan kebenaran parsial (partial Truth) , yaitu suatu fakta, konsep, dan prinsip yang sudah terbukti efektif dalam banyak kasus tapi sifatnya masih belum bisa digeneralisasikan. Karena dianggap baik dan bermanfaat tipe prinsip ini bisa digunakan, namun dalam penggunaannya biasanya masih mengundang pro dan kontra. Selanjutnya, anggapan kebenaran yang masih memerlukan pembuktian (Hypothesis) yaitu asumsi kerja atau prinsip yang sifatnya tentatif. Prinsip ini muncul dari hasil deliberasi, judgement dan pemikiran akal sehat. Meskipun memang sangat diharapkan menggunakan tipe prinsip whole truth, akan tetapi tipe prinsip lainyapun berguna dan bermanfaat. Sebagaimana halnya dengan prinsip tipe kebenaran parsial, prinsip tipe hypothesis ini juga masih memungkinkan adanya tantangan dalam penggunaannya alias mungkin adanya pro dan kontra.
Namun demikian, pada dasarnya kesemua jenis tipe prinsip itu bisa digunakan. Tipe prinsip mana yang mendapat penekanan dalam penggunaannya, ini sangat tergantung pada perspektif dari para pengembang kurikulum tentang kurikulum itu sendiri. Dalam praktek pengembangan kurikulum kesemua tipe prinsip itu biasanya digunakan. Untuk menyederhanakan peristilahan tentang berbagai tipe prinsip sebagaimana dijelaskan di muka, Oliva (1992:30) memakai istilah Axioms untuk menggambarkan berbagai karakteristik prinsip tersebut. Merujuk pada kamus Webster’s Ninth New Collegiate Dictionary kata aksioma memiliki pengertian yang meliputi sifat-sifat dari ttiga prinsip di atas.
                        Istilah aksioma ini juga masih mungkin diganti dengan istilah teorema (theorems). Aksioma dan teorema dua hal yang berbeda tapi senada, yang jelas keduanya akan memberikan pedoman sebagai kerangka rujukan dalam melakukan aktivitas dan pemecahan masalah, temasuk di dalamnya aktivitas pengembangan kurikulum.
E.       Bentuk-bentuk Pengembangan Kurikulum
Menurut Hendyat Soetopo dan Wasty Soemanto dalam Pembinaan dan pengembangan kurikulum. Ada berbagai macam bentuk pengembangan kurikulum, namun semuanya dapat digolongkan dalam dua bentuk yaitu pengembangan atas dasar sistem dan pengembangan atas dasar mata pelajaran yaitu sebagai berikut :
                        1.         Pengembangan atas dasar sistem
a.    Berawal dari pembaharuan organisasianal suatu sector khusus sistem pendidikan, seperti pembaruan kurikulum SD atau sekolah menengah.
b.   Lebih bertititk tolak dari pnalaran kurikulum sebagai sutu keseluruhan daripada sebagai satu bagian spesifik.
c.    Mencoba merefleksi tujuan-tujuan umum suatu program pembaharuan dan merumuskan tujuan-tujuan khusus dari tujuan umum tersebut.
d.   Mengusahakan kesamaan bobot antara affective learning dengan kognitif learning. Lebih menruh perhatian pada aspek-aspek perkembangan manusia lainnya.
e.    Menekankan frame factor organisasional. Perubahan organisasional diikuti oleh proses perubahan kurikulum yang berencana.
f.    Bergantung pada reorientasi sikap-sikap guru yang tradisional. Penetaan tujuan, dukungan dan nasihat guru lebih ditekankan pada persiapan materi pelajaran.
g.   Dalam banyak hal pembaharuan nampaknya lebih bertitik tolak pada pertimbangan-pertimbangan politik dan sosial daripada pertimbanagn pendidikan.
                        2.         Pengembangan atas dasar mata pelajaran
a.    Berawal dari perubahan atau usaha untuk meningkatkan kualitas belajar pada suatu bidang pengetahuan khusus.
b.   Fokusnya terletak pada peningkatan bagian tertentu kurikulum.
c.    Pengembangan dimulai atas dasar isi dan tujuan-tujuan yang lebih sempit.
d.   Lebih menekankan tahap-tahap persiapan field trial dan diseminasi jenis materi kurikulum yang baru. Dengan kata lain lebih mengikuti pola heuristic daripada pola tradisional. Misalnya pembaharuan di dalam bidang studi matematika diawali dengan riset, lalu pengembangan dan akhirnya difusi.
e.    Sering diidentifikasikan dengan pengembangan materi ajar-belajar. Kurang memperhatikan in-servis training para guru, karena menurut pandangan para pengikut bentuk ini materi itu sendiri sudah cukup untuk menetapkan dan mentransmisi perubahan-perubahan yang dianjurkan dalam pendekatan pengajaran.
f.    Diawali dengan modernisasi bahan pelajaran dan penilaian ulang pendekatan pengajaran. Manfaat dan daya tariknya kemudian dapat membandingkan tindakan-tindakan politik dan ekonomi.









BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pengembangan kurikulum adalah istilah yang komprehensif, didalamnya mencakup: perencanaan, penerapan dan evaluasi. Perencanaan kurikulum adalah langkah awal membangun kurikulum ketika pekerja kurikulum membuat keputusan dan mengambil tindakan untuk menghasilkan perencanaan yang akan digunakan oleh guru dan peserta didik.
Prinsip-prinsip dalam pengembangan kurikulum terbagi menjadi dua prinsip yaitu prinsip umum dan prinsip khusus. Sumber prinsip yaitu dari mana asal muasal terlahirnya suatu prinsip. Setidaknya ada empat sumber prinsip pengembangan kurikulum, yaitu : data empiris, data eksperimen, cerita/legenda yang hidup di masyarakat, dan akal sehat.
Tipe-tipe prinsip pengembangan kurikulum yaitu tingkat validitas dan reliabilitas prinsip yang digunakan. Ada berbagai macam bentuk pengembangan kurikulum, namun semuanya dapat digolongkan dalam dua bentuk yaitu pengembangan atas dasar sistem dan pengembangan atas dasar mata pelajaran.


DAFTAR PUSTAKA
Abdullah Idi. 2006. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Ar-Ruzz Media : Jogjakarta.
Hendyat Soetopo dan Wasty Soemanto. 1982. Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum. Bina Aksara : Jakarta.
Ahmad Sudrajat. 2008. Prinsip Pengembangan Kurikulum. http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/31/prinsip-pengembangan-kurikulum/ Diakses pada tanggal 22 FEBRUARI 2012, Pukul 20.06
Nana Syaodih Sukmadinata. 1997. Pngembangan Kurikulum. PT Remaja Rosdakarya : Bandung.
Rudi Susilana. 2006. Kurikulum dan pembelajaran. Jurusan Kutekpen FIP UPI : Bandung.
Wina Sanjaya. 2008. Kurikulum dan Pembalajaran. Kencana :Jakarta

0 komentar:

Poskan Komentar