Pages

Sabtu, 01 Desember 2012

Instrumen Evaluasi Kurikulum



BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Instrumen Evaluasi Kurikulum
Dalam mengevaluasi sebuah program, entah itu program pembelajaran atau kurikulum atau yang lain, diperlukan instrumen untuk mengumpulkan data dan informasi agar bisa mengukur apakah program tersebut sesuai dengan tujuan dan harapan atau tidak. Berikut ini akan dipaparkan pengertian instrumen evaluasi secara umum serta jenis-jenisnya :
Instrumen adalah suatu alat yang memenuhi persyaratan akademis, sehingga dapat dipergunakan sebagai alat untuk mengukur suatu obyek ukur atau mengumpulkan data mengenai suatu variable. Secara umum, ada dua jenis instrumen yang sering digunakan, yaitu tes dan non-tes.

1.      Tes
Menurut Sudijono dalam Djali dan Muljono, tes adalah alat atau prosedur yang dipergunakan dalam rangka pengukuran dan penilaian. Yang termasuk dalam kelompok tes adalah tes prestasi belajar, tes intelegensi, tes bakat, dan tes kemempuan akademik.  Beberapa fungsi tes diantaranya:
   Sebagai alat untuk mengukur prestasi belajar siswa dengan maksud untuk mengukur tingkat perkembangan atau kemajuan yang telah dicapai siswa setelah menempuh proses belajar-mengajar dalam jangka waktu tertentu
       Sebagai motivator dalam pembelajaran, dengan adanya nilai sebagai umpan balik diharapkan meningkatnya intensitas kegiatan belajar
       Berfungsi untuk upaya perbaikan kualitas pembelajaran
       Untuk menentukan barhasil atau tidaknya siswa sebagai syarat untuk menentukan berhasil atau tidaknya siswa sebagai syarat untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi
2.      Non-tes
Yang termasuk dalam kelompok non-tes ialah skala sikap, skala penilaian, pedoman observasi, pedoman wawancara, angket, pemeriksaan dokumen dan sebagainya.
a.       Observasi
Observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang dijadikan obyek pengamatan
b.      Wawancara
Wawancara adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilaksanakan dengan Tanya jawab baik secara lisan, sepihak, berhadapan muka, walaupun dengan arah serta tujuan yang telah dilakukan
Jenis wawancara yang dapat diergunakan sebagai alat evaluasi:
·      Wawancara terpimpin (guided interview) yang juga dikenal dengan wawancara berstruktur atau wawancara sistematis
·      Wawancara tidak terpimpin (un-guided interview) yang dikenal dengan istilah wawancara sederhana atau wawancara bebas.
c.       Angket (Kuesioner)
Data yang dihimpun melalui angket biasanya data yang berkenaan dengan kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh siswa dalam mengikuti pelajaran, antara lain: cara belajar, fasilitas belajar yang tersedia, bimbingan guru dan orang tua, motivasi dan minat belajar, sikap belajar, sikap terhadap mata pelajaran tertentu, dan pandangan siswa terhadap proses pembelajaran, serta sikap siswa terhadap gurunya. Angket pada umumnya dipergunakan untuk menilai hasil belajar pada arah afektif.
d.      Pemeriksaan Dokumen
Untuk mengukur kemajuan belajar siswa dapat juga dilakukan dengan tanpa pengujian tetapi dengan cara melakukan pemeriksaan dokumen-dokumen, misalnya dokumen yang memuat informasi mengenai kapan siswa itu diterima di sekolah tersebut, darimana sekolah asalnya, apakah siswa tersebut pernah tinggal kelas, apakah ia pernah meraih kejuaraan sebagai siswa yang berprestasi di sekolahnya.
Untuk penyusunan instrumen tes atau nontes, evaluator  harus mengacu pada pedoman penyusunan masing-masing jenis dan bentuk tes atau non tes agar instrumen yang disusun memenuhi syarat instrumen yang baik, minimal syarat pokok instrumen yang baik, yaitu valid (sah) dan reliabel (dapat dipercaya).
Instrumen evaluasi yang baik memiliki ciri-ciri dan harus memenuhi beberapa kaidah antara lain :
·      Validitas
Sebuah Instrumen Evaluasi dikatakan baik manakala memiliki validitas yang tinggi. Yang dimaksud Validitas disini adalah kemampuan instrumen tersebut mengukur apa yang seharusnya diukur. Ada tiga Aspek yang hendak dievaluasi dalam evaluasi hasil belajar yaitu Aspek Kognitif, Psikomotor dan Afektif.Tinggi Rendah nya validitas instrumen dapat di hitung dengan uji validitas dan di nyatakan dengan koefisien validitas.
·      Reliabilitas
Instrumen dikatakan memiliki reliabilitas yang tinggi manakala instrumen tersebut dapta menghasilkan hasil pengukuran yang ajeg. Keajegan/ketetapn disini tidak diartikan selalu sama tetapi mengikuti perubahan secara ajeg. Jika keadaan seseorang si upik berada lebih rendah dibandingkan orang lain misalnya si Badu, maka jika dilakukan pengukuran ulang hasilnya si upik juga berada lebih rendah terhadap si badu. Tinggi rendahnya reliabilitas ini dapat di hitung dengan uji reliabilitias dan dinyatakan dengan koefisien reliabilitas.
·      Objektivitas
Instrumen evaluasi hendaknya terhindar dari pengaruh-pengaruh subyektifitas pribadi dari si evaluator dalam menetapkan hasilnya. Dalam menekan pengaruh subyektifitas yang tidak bisa dihindari hendaknya evaluasi dilakukan mengacu kepada pedoman tertama menyangkut masalah kontinuitas dan komprehensif.
Evaluasi harus dilakukan secara kontinu (terus-menerus). Dengan evaluasi yang berkali-kali dilakukan maka evaluator akan memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang  keadaan Audience yang dinilai. Evaluasi yang diadakan secara on the spot dan hanya satu atau dua kali, tidak akan dapat memberikan hasil yang obyektif tentang keadaan audience yang di evaluasi. Faktor kebetulan akan sangat mengganggu hasilnya.
·      Praktikabilitas
Sebuah intrumen evaluasi dikatakan memiliki praktikabilitas yang tinggi apabila bersifat praktis mudah pengadministrasiannya dan memiliki ciri : Mudah dilaksanakan, tidak menuntut peralatan  yang banyak dan memberi kebebasan kepada audience mengerjakan yang dianggap mudah terlebih dahulu. Mudah pemeriksaannya artinya dilengkapi pedoman skoring, kunci jawaban. Dilengkapi petunjuk yang jelas sehingga dapat di laksanakan oleh orang lain.
·      Ekonomis
Pelaksanaan evaluasi menggunakan instrumen tersebut tidak membutuhkan biaya yang mahal tenaga yang banyak dan waktu yang lama.
·      Taraf Kesukaran
Instrumen yang baik terdiri dari butir-butir instrumen yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sukar. Butir soal yang terlalu mudah tidak mampu merangsang audience mempertinggi usaha memecahkannya sebaliknya kalau terlalu sukar membuat audiece putus asa dan tidak memiliki semangat untuk mencoba lagi karena diluar jangkauannya. Di dalam isitlah evaluasi index kesukaran ini diberi simbul p yang dinyatakan dengan “Proporsi”.
·      Daya Pembeda
Daya pembeda sebuah instrumen adalah kemampuan instrumen tersebut membedakan antara audience yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan audience yang tidak pandai (berkemampuan rendah). Indek daya pembeda ini disingkat dengan D dan dinyatakan dengan Index Diskriminasi.

B.  Penyusunan Instrumen Evaluasi Kurikulum
Langkah-langkah penyusunan instrumen yang perlu ditempuh adalah (Oemar Hamalik: 1989: 130-131) :
1.      Merumuskan tujuan pengumpulan data secara spesifik.
Langkah pertama dalam menyusun instrumen evaluasi kurikulum adalah merumuskan tujuan pengumpulan data. Jadi, kita melihat kembali tujuan pengumpulan data ini untuk apa secara lebih spesifik. Misalnya, untuk mengukur hasil belajar siswa dalam aspek afektif.
2.      Merumuskan setiap aspek masalah menjadi sejumlah unsur secara rinci
Setelah kita merumuskan bahwa pengumpulan data ini bertujuan untuk mengukur hasil belajar siswa secara afektif, maka ada beberapa hal dalam aspek afektif yang perlu dinilai, yaitu misalnya sikap, keseriusan siswa, dll.
3.      Menentukan karakteristik masing-masing aspek atau submasalah yang akan dinilai.
Kemudian aspek-aspek tersebut dijabarkan, apa saja yang akan dinilai/diukur pada masing-masing aspek.
4.      Masing-masing karakteristik dirinci menjadi sejumlah atribut perilaku yang dapat diamati dan diukur.
Misalnya, aspek sikap, akan dinilai sikap siswa pada saat berdiskusi dengan siswa lainnya, dll.
5.      Merumuskan setiap atribut menjadi satuan pertanyaan secara singkat, jelas, dan dengan bahasa yang tajam
Setelah atribut perilaku telah siap, kemudian atribut ini dijadikan butir-butir pertanyaan.
6.      Merumuskan alternatif jawaban untuk masing-masing pertanyaan; usahakan jawaban yang singkat.
Perumusan alternatif jawaban tidak perlu dilakukan jika instrumen berbentuk skala atau checklist.
7.      Bila instrumen tersebut berbentuk skala atau daftar centang (checklist), tidak perlu ditentukan alternatif jawaban, namun berikan skala, misalnya Baik Sekali, Baik, Cukup, Kurang, dan Sangat Kurang yang masing-masing diberi bobok 5, 4, 3, 2,, 1.
8.      Konsep (draft) instrumen setelah disimpan beberapa waktu, selanjutnya dikaji kembali secara kritis, baik isi maupun strukturnya.
9.      Jika kita bermaksud memperoleh suatu instrumen yang memiliki tingkat keandalan tertentu, sebaiknya dilakukan uji coba guna menetapkan validitas dan reabilitas melalui prosedur tertentu.
10.  Jangan lupa menyusun kata pengantar dan petunjuk penggunaan atau pengisian instrumen serta identifikasi responden.
11.  Instrumen yang final hendaknya disusun dan dicetak dalam format yang tertib dan menarik
12.  Gunakan bahasa yang baik, jelas, sederhana, dan mudah dipahami sesuai dengan responden yang akan dihadapi.
Penyusunan instrumen evaluasi, sebenarnya merupakan salah satu langkah dalam kegiatan evaluasi. Instrumen evaluasi digunakan sebagai alat ukur untuk kita bisa mengevaluasi sebuah program.

C.  Peranan Instrumen dalam Kegiatan Evaluasi Kurikulum
Instrumen mempunyai peranan yang penting karena instrumen itu sendiri diibaratkan sebuah alat untuk mengukur sesuatu. Sedangkan kegiatan mengevaluasi adalah kegiatan mengukur dan menilai. Jadi kegiatan pengukuran,penilaian, dan evaluasi itu bersifat hierarkhis, artinya dilakukan secara beruntutan: dimulai dengan pengukuran, dilanjutkann dengan penilaian, dan diakhiri dengan mengevaluasi.
Pengukuran menurut Guilford (1982) adalah proses penetapan angka terhadap suatu gejala menurut aturan tertentu. Pengukuran pendidikan berbasis kompetensi dasar berdasarkan pada klasifikasi observasi unjuk kerja atau kemampuan peserta didik dengan menggunakan suatu standar. Pengukuran dapat menggunakan tes dan nontes. Tes adalah seperangkat pertanyaan yang memiliki jawaban benar atau salah, atau suatu pernyataan/permintaan untuk melakukan sesuatu. Nontes bisi pertanyaan atau pernyataan yang tidak memiliki jawaban benar atau salah. Instrumen nontes bisa berbentuk kuesioner atau interventori. Kuesioner berisi sejumlah pertanyaan atau pernyataan, peserta didik diminta menjawab atau memberikan pendapat terhadap pernyataan. Inventori merupakan instrumen yang berisi tentang laporan diri yaitu keadaan peserta didik, misalnya potensi peserta didik.
Penilaian menurut Griffin & Nix (1991) suatu pernyataan berdasarkan sejumlah fakta untuk menjelaskan karakteristik seseorang atau sesuatu. Di sini penilaian berhubungan dengan setiap bagian dari proses pendidikan, bukan hanya keberhasilan belajar saja, tetapi mencakup semua proses mengajar dan belajar. Oleh karena itu kegiatan penilaian tidak terbatas pada karakteristik peserta didik, tetapi juga mencakup karakteristik metode mengajar, kurikulum, fasilitas dan administrasi sekolah. Instrumen penilaian bisa berupa metode atau prosedur formal atau informal, untuk menghasilkan informasi tentang peserta didik, yaitu tes tertulis, tes lisan, lembar pengamatan, pedoman wawancara, tugas rumah dan sebagainya. Penilaian juga diartikan sebagai kegiatan menafsirkan data hasil pengukuran.
Sehingga, dapat disimpulkan bahwa pengukuran adalah kegiatan yang sistematik untuk menentukan angka pada objek atau gejala. Pengujian terdiri dari sejumlah pertanyaan yang memiliki jawaban benar  atau salah. Peniliaian  adalah penafsiran hasil pengukuran dan penentuan pencapaian hasil belajar. Evaluasi adalah penentuan nilai suatu program dan penentuan pencapaian tujuan suatu program.
Dalam kegiatan mengevaluasi kurikulum, terdapat langkah-langkah yang ditempuh, dan salah satu langkah tersebut adalah penyusunan instrumen evaluasi yang telah dijelaskan pada poin sebelumnya. Instrumen sangat krusial dalam hal ini, karena jika tidak menggunakan instrumen, evaluator tidak akan bisa mengukur, menilai, dan mengevaluasi sebuah kurikulum.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Dari uraian ringkas di atas dapat di simpulkan bahwa untuk melakukan evaluasi kurimulum secara komprehensif diperlukan instrumen yang tepat sesuai dengan domain yang hendak dievaluasi. Pengembangan instrumen evaluasi dengan menggunakan tes telah banyak dilakukan oleh para ahli. Instrumen ini hanya cocok untuk mengukur domain kognitif dan sebagian psikomotor. Untuk mengukur domain afektif dan sebagian psikomotor diperlukan pengembangan instrument evaluasi nontes (alternative test). Pengembangan instrumen ini relatif lebih sulit dibandingkan dengan pengembangan instrumen evaluasi tes. Untuk itu, diperlukan kajian yang seksama dalam menurunkan serta menjabarkan domain afektif ke dalam aspek-aspek yang spesifik untuk dapat mengembangkan instrumen yang valid dan reliabel.




















DAFTAR REFERENSI

            Hamalik, Oemar. 1989. Evaluasi Kurikulum. PT Remaja Rosdakarya : Bandung


Ulianta. http://stahdnj.ac.id/?p=67 Diakses pada tanggal 09 September 2012, pukul 08.51

   Syutaridho.http://blog.unsri.ac.id/syutaridho/evaluasi/pengertian-dan-jenis-jenis-instrumen/mrdetail/19785/ Diakses tanggal 16 November 2012, pukul 15.44
     

0 komentar:

Poskan Komentar